JAKARTA - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan esensi Peringatan Hari Anak Sedunia sebagai momen krusial untuk merenungkan dan memperkuat janji nasional. Tujuannya jelas: memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, memiliki kekuatan diri, terlindungi sepenuhnya, dan meraih peluang setara.
"Anak adalah aset sumber daya manusia paling berharga bagi masa depan bangsa. Investasi dalam perlindungan dan pemenuhan hak mereka adalah kunci untuk mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045, " ujar Menteri PPPA Arifah Fauzi, Kamis (20/11/2025), menekankan betapa vitalnya peran generasi penerus.
Beliau menambahkan bahwa pendidikan berkualitas, yang didukung oleh lingkungan belajar bebas dari kekerasan dan perundungan, menjadi fondasi tak tergantikan dalam membentuk karakter dan daya saing generasi mendatang. Melalui program KREASI, Kementerian PPPA berkolaborasi erat dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen), Kementerian Agama, Save the Children Indonesia, serta Konsorsium Mitra Pendidikan Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi, numerasi, penguatan karakter, dan membangun budaya sekolah yang inklusif serta ramah anak.
Menteri PPPA tak lupa mengapresiasi peran vital para guru sebagai ujung tombak pendidikan. "Saya mengajak seluruh mitra untuk bersama-sama menjaga dan menciptakan ruang aman bagi anak, baik di rumah, di sekolah, maupun di tengah masyarakat. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama, " serunya.
Kepada seluruh anak Indonesia, Menteri PPPA memberikan pesan membakar semangat: "Teruslah berkarya dan jangan pernah takut untuk bermimpi. Jadilah pionir dan pelapor dalam upaya pemenuhan hak anak. Mari kita jadikan momentum ini sebagai komitmen nyata menuju Indonesia yang ramah anak, perempuan berdaya, anak terlindungi, demi Indonesia Emas 2045."
Ratna Susianawati, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak, menyoroti potensi demografis Indonesia. "Dengan sepertiga populasi kita adalah anak-anak, persiapan mereka sejak dini adalah sebuah keharusan. Survei Pengalaman Hidup Anak (SNPHAR) 2018 dan 2024 menunjukkan progres positif, di mana angka kekerasan terhadap anak menurun signifikan. Namun, temuan ini justru menegaskan perlunya sinergi yang lebih kuat antara kementerian, pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, masyarakat, dan media untuk mempercepat upaya perlindungan anak di seluruh penjuru negeri, " ungkapnya.
Plt. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak juga menjelaskan berbagai upaya Kemen PPPA, mulai dari pencegahan di tingkat keluarga, sekolah, hingga komunitas, serta memastikan partisipasi bermakna anak melalui Forum Anak. Inisiatif seperti Ruang Bersama Indonesia (RBI) sebagai model desa ramah perempuan dan anak juga terus dikembangkan. "Melalui layanan SAPA 129 dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) PPA, negara berkomitmen untuk penanganan kasus yang cepat, terintegrasi, dan selalu berpihak pada korban, " tambahnya.
Galih Sulistiyanigra, CEO Smartrick Indonesia, berbagi pengalaman pribadi dari sepuluh tahun mengajar di berbagai jenjang sekolah. "Saya menyaksikan sendiri jurang kesenjangan akses dan kualitas pendidikan. Banyak anak yang belum mendapatkan lingkungan belajar yang benar-benar aman dan memanusiakan. Oleh karena itu, saya sangat mendorong terciptanya pendidikan yang inklusif, anti-kekerasan, dan benar-benar berpihak pada kebutuhan unik setiap anak, " ujarnya.
Galih menekankan bahwa pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. "Keluarga, guru, masyarakat, dan negara harus bahu-membahu untuk mendobrak stigma lama dan mendorong perubahan positif yang berkelanjutan."
Ruspita Putri Utami, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, menggarisbawahi pentingnya menciptakan budaya belajar yang aman, nyaman, dan penuh kegembiraan. Ini menjadi tantangan tersendiri di tengah isu kecanduan gawai, kesehatan mental remaja, dan berbagai faktor psikososial lainnya. "Sekolah wajib menjadi benteng yang kokoh, bebas dari segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan digital. Setiap murid harus merasakan perlindungan, dukungan, dan memiliki ruang yang luas untuk berekspresi, " tegasnya.
Ia memaparkan tiga pilar utama penguatan karakter: tata kelola yang baik, edukasi yang komprehensif, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Pelibatan sekolah, keluarga, masyarakat, dan media menjadi kunci efektivitas upaya ini. "Penguatan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKSP), modul pembiasaan karakter, serta literasi digital bagi orang tua adalah bagian integral dari upaya kolektif kita untuk memastikan perlindungan anak berjalan efektif, " tambahnya.
Nyayu Khadijah, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, menegaskan peran madrasah sebagai lembaga pendidikan inklusif yang setara dengan sekolah umum, namun dengan kekhasan nilai-nilai Islam. "Madrasah terbuka untuk semua anak, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, kemampuan, bahkan anak penyandang disabilitas sekalipun, " jelasnya.
Dengan 87 ribu madrasah dan 10 juta siswa, sebagian besar berada di lingkungan pesantren, madrasah telah menjadi pilar penting pendidikan masyarakat hingga ke daerah terpencil. "Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, kami berupaya menjadikan madrasah sebagai ruang aman, bebas diskriminasi, serta menumbuhkan empati, toleransi, dan cinta sebagai fondasi kesejahteraan emosional dan spiritual peserta didik, " ungkap Nyayu.
Forum ini secara tegas menyatakan bahwa perlindungan dan pendidikan yang aman bagi anak harus menjadi prioritas utama seluruh elemen bangsa. Upaya pencegahan kekerasan, penguatan karakter, peningkatan kualitas lingkungan belajar, serta penyediaan layanan yang responsif perlu dilakukan secara konsisten dan terintegrasi. Kolaborasi lintas sektor terbukti menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem yang aman dan inklusif, sehingga setiap anak Indonesia dapat tumbuh optimal dan memberikan kontribusi terbaik bagi cita-cita Indonesia Emas 2045. (PERS)

Updates.